Ayahku ketika Aku berumur…

4 tahun : Ayahku dapat melakukan apa saja

5 tahun : Ayahku tahu banyak hal

6 tahun : Ayahku lebih pandai dari pada ayahmu

8 tahun : Ayahku sebenarnya tidak tahu segalanya

10 tahun : Dahulu saat ayahku tumbuh, segala sesuatu jelas berbeda

12 tahun : Yah, sesungguhnya Ayah tidak tahu apapun mengenai hal itu.

Ia   terlau tua untuk mengingat masa kecilnya

14 tahun : Jangan perhatikan Ayahku. Dia terlalu kuno!

21 tahun : Dia?Ya Tuhan, dia sama sekali ketinggalan zaman

25 tahun : Ayah tahu sedikit mengenai hal itu, tetapi memang seharusnya

begitu karena dia sudah hidup begitu lama

30 tahun : Barangkali kita bisa bertanya pada Ayah apa yang dia pikirkan.

Bagaimanapun juga, dia mempunyai banyak pengalaman

35 tahun : Aku tak akan melakukan apa pun juga sebelum berbicara pada

Ayah

40 tahun : Aku ingi tahu bagaimanaayah bisa mengatasinya. Dia sangat

bijaksana dan empunya segudang pengalaman

50 tahun : Aku akan memberikan segala sesuatu jika Ayah ada disini

sekarang   ini sehingga aku dapat berbicara dengannya mengenai

hal ini.  sayangnya aku tak menghargai betapa pandainya dia.

Seharusnya aku dapat belajar banyak darinya.

 

From Chiken soup for soul


Advertisements

Seorang anak bertanya pada ayahnya,

“Ayah apa makanan kesukaanmu?”

“ begitu banyak makanan yang ayah suka, tapi tak ada yang lebih enak dari buatan ibumu, nak” jawab ayah.

“Ayah, begitu banyak tempat yang indah di dunia, kemana kah ayah akan tuju?”

ayah menjawab,

” anakku, begitu banyak tempat  indah yang pernah ayah kunjungi, tapi tak ada tempat yang terindah dimuka bumi ini bila ayah tidak bersama kalian, anakku ”

“Ayah, mengapa selama ini kau selalu membimbingku?

“Untuk kebahagiaanmu, nak!”

Ayah, jika suatu saat nanti aku berhasil menggapai impianku, apa yang kau inginkan, ayahku?

ayah pun menjawab dengan singkat,

”hanya  Senyummu, nak”

Aku termenung, mengapa ayah selau berucap, berbuat, bertindak hanya untuk aku.

Aku pun bertanya lagi,

“Ayah, kenapa ayah selalu menjawab apa yang aku tanyakan itu, semuanya demi aku?”

Sambil memegang pundakku, ayah berkata,

“Karena aku sayang kamu, nak”

Latihan kepemimpinan yang diselenggarakan ITB dengan tema “membangun keunggulan karakter mahasiswa ITB, dalam berkreatifitas dan berinovasi untuk menghasilkan karya bagi bangsa”untuk mahasiswanya merupakan usaha sadar yang dilakukan rektorat dalam membentuk kompetensi yang unggul dari mahasiswanya. Mahasiswa atau kita bisa sebut kaum muda tepelajar sejak era kebangkitan nasional memiliki peran yang besar terhadap perubahan bangsa Indonesia dan sampai sekarang, di masa pembangunan ini mahasiswa masih memiliki peran penting tersebut. Tapi kondisi sudah berubah, zaman sekarang ini dengan perkembangan IPTEK yang begitu pesat dan ekonomi menjadi barometer kemajuan bangsa, kaum-kaum pemuda dituntut mengetahui tantangan yang sebenarnya terjadi pada masa sekarang ini.
Problematika yang terjadi pada bangsa saat ini bersifat menyeluruh dengan segala aspek-aspek yang ada, misalnya pendidikan, kesehatan, ekonomi, pertanian, sosial kemasyarakatan, dan lain-lain. Masalah-masalah yang terjadi tidak secara parsial atau terpisah-pisah melainkan saling berkaitan. Contoh sederhanya, banyak anak-anak sekarang tidak bisa bersekolah karena orang tuanya yang sudah tidak bekerja lagi karena perusahaanya gulung tikar karena krisis global tidak bisa membiayakan pendidikannya, ini hanya salah satu contoh yang mungkin terjadi sekarang ini.
Suatu kebanggaan menjadi mahasiswa ITB, hanya sebagian kecil dari pemuda-pemuda Indonesia yang memiliki mimpi dan cita-cita yang besar yang bisa berada ditempat ini, bayangkan dari ratusan juta rakyat Indonesia yang dapat mencicipi pendidikan perguruan tinggi hanya sebuah komunitas kecil, apalagi berada disini, di Institut Terbaik Bangsa. Hanya orang-orang yang beruntung yang telah berjuang dan berkorban yang tidak sedikit yang bisa mencapainya. Apa yang dapat kita simpulkan disini, kita Cuma perlu mengingat berapa banyak orang yang telah kita pupuskan mimpinya saat kita bisa mencicipi pendidikan di ITB ini. Selain itu perlu diingat juga ratusan juta rakyat Indonesi menaruh harapanya di pundak kita para pemuda, khusunya mahasiswa ITB. Karena tanggung jawab yang besar yang dimiliki oleh mahasiswa, ITB dituntut untuk mempersipkan calon-calon pemimpin masa depan bangsa ini.
Sebenarnya hal yang fundamental yang harus dlakukan bangsa ini untuk menjadi bangsa yang yang dicita-citakan sejak pembacaan proklamsi kemerdekaan adalah membangun karakter bangsa. Jepang yang kita ketahui sebagai kiblat teknologi masa kini, menjadi bangsa yang maju bukan karena sumber daya alam yang melimpah atau orang-orangnya yang pintar-pintar, melainkan karena karakter bangsa tersebut. Rakyat Jepang memiliki etos kerja dan disiplin yang tinggi. Masih ingat ketika perang dunia ke-II saat kota Hiroshima dan Nagasaki diluluhlantahkan oleh bom atom, hampir masyarakatnya tewas terbunuh dan kotanya hancur tanpa sisa. Tapi lihat sekarang Jepang adalah salah satu Negara maju di dunia. Karena satu hal yang menyebabkan Jepang bisa bertahan bahkan bisa berkembang pesat, yaitu karena karakter bangsa tersebut.
Indonesia adalah surga dunia, zamrud khatulistiwa yang memiliki kekayaan alam yang melimpah, kebudayaan yang tak ternilai, berapa banyak bangsa lain yang iri atau cemburu pada negeri kita, dengan segala kekurangan yang ada, negeri ini adalah sebuah karunia Tuhan yang tak ternilai. Benar dengan segala kekurangan yang ada negeri adalah karunia tapi kekurangan yang ada menjadi negeri ini terbelenggu dengan harapan kosong yang tak berguna. Bangsa ini termakan sendiri dengan dengan karunia yang dimilikinya. Rakyat Indonesia selama ini telah terbuai akan sesuatu yang dimilikinya, kita tidak pernah membayangkan bila semua yang kita miliki ini hilang atau kita tidak punya sama sekali. Hal ini menyebabkan bangsa ini tidak mempunyai karakter etos kerja yang tinggi. Bayangkan jika kita mempunyai karakter bangsa yang kuat, mungkin ketika negeri ini diterjang krisis yang menerjang semua lini kehidupan, kita masih tetap akan bertahan, bahkan mungkin kita tetap akan melaju meninggalkan bangsa-bangsa lain di dunia.
Saat rakyat Indonesia membutuhkan suatu perubahan, kita harus sadar sebagai pemuda bahwa perubahan bangsa ini tidak bisa dilakukan oleh kita sendiri, Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum jika dia tidak mau mengubah keadaannya sendiri. Tapi kita bisa memulai perubahan tersebut, dengan melakukan hal yang sederhana, yaitu dengan membangun karakter bangsa ini. Saatnya kita dapat berperan untuk menjadikan bangsa ini bangsa yang madani. Kita dituntut membangun karakter bangsa sesuai dengan perkembangan zaman sekarang. Mulailah dari berpikir kritis dan berusaha untuk terus mengembangkan dirinya.
Bangsa ini harus membangaun jati dirinya, bangsa ini harus membangun karakternya. Inilah tugas kita, Mahasiswa.

Pengabdian kepada masyarakat

Mahasiswa selayaknya seorang insan akedemis akan mencari suatu kebenaran dan keingintahuan yang akan menjawab tantangan di masa depan. Pencarian jati diri sebagai seorang mahasiswa adalah salah satu jawaban untuk menjawab kebenaran dan keingintahuan tersebut. Jati diri atau kita biasa  sebut sebagai peran adalah hal yang fundamental untuk mengetahui siapa kita, kenapa kita disini, apa tujuan kita, dll. Pertanyaan-pertanyaan tersebut  tidak akan telontar dalam benak kita, bila kita yang pemikir ini adalah seorang yang egois, yang tidak peka dengan keadaan sekitar.

Kita mungkin telah menjawab peran kita disini, menjawab kebenaran dan keingintahuan tersebut. Namun kita pu n tahu, bahwa setiap orang memiliki hak untuk menjawab sesuai dengan pemikiran sendiri. Entah apa saja jawaban yang muncul dari pertanyaan diatas  apalagi dengan begitu banyak perbedaan yang terjadi. Namun, dengan perbedaan tersebut, membuat kita sebagai mahasiswa  terus berpikir kritis, apa yang semestinya kita lakukan.  Penjaga nilai, agen perubahan, dan cadangan masa depan apakah menjawab tantangan tersebut. Mungkin, ketiga peran yang disebutkan tersebut terjawab karena kita berusaha peka terhadap keadaan nyata yang terjadi disekitar kita. Misalnya penjaga nilai, mahasiswa yang bisa dikata memiliki intelektual yang lebih karena memiliki kesempatan, mau tidak mau  akan tahu mana yang benar secara ilmiah dengan yang tidak. Setiap apa yang kita miliki pasti punya pertanggungjawabannya. Tanggung jawab terhadap hal tersebut menjawab  coba bayangkan bila mahasiswa yang memiliki tanggung jawab tersebut melepas tanggung jawabnya, nilai-nilai kebenaran yang ada pada masyarakat akan lenyap. Masyarakat yang beradab dan beretika akan lenyap.

Sama halnya dengan kita sebagai agen perubahan. Kemajuan dan kebangkitan suatu bangsa terjadi karena adanya suatu perubahan. Perubahan menuju kearah yang lebih baik. Namun perubahan itu tidak akan pernah terjadi bila kita tak pernah belajar dari apa yang telah kita perbuat. Maksudnya, apakah kita bisa maju, bila kita tak pernah belajar dari kesalahnya sendiri. Pernyataan diatas mempertanyakan sikap kita seorang mahasiswa. Seorang yang selalu belajar, meneliti, dan selalu mencoba. Belajar memang kewajiban seorang mahasiswa, tapi dari hal tersebut kita juga punya tanggung jawab.  Kita tahu kan, bahwa dalam belajar, kesalahan adalah adalah  suatu pelajaran yang berharga. Kita jangan salah artikan, hal ini disebut suatu pelajaran bila kita tidak berbuat lagi  hal tersebut di kemudian hari, bahkan kita seharusnya, dari kesalahan tersebut, kita harus lebih baik daripada  sebelumnya.

Namun, apa hubungannya dengan tanggung jawab. Singkat saja, bila orang-orang sekitar kita tidak mengalami perubahan kearah yang lebih baik pada hari-harinya, apakah kita sudah belajar?.  Pertanyaan ini mempertanyakan tanggung jawab kita.

Apakah kalian bayangkan saat anda mendapatkan kesempatan untuk jadi seorang mahasiswa, berapa banyak yang kalian putuskan harapannya, hilangkan cita-citanya, bahkan mimpi indah mereka. Memang kita tidak tahu siapa saja mereka, tapi itulah yang terjadi. Seberapa beruntugnya kita, berapa harga yang harus kita bayar untuk ini semua. Salah satu harganya adalah tanggung jawab.

Sekarang saya bertanya pada mahasiswa, apakah pengabdian kepada masyarakat merupakan suatu kebutuhan untuk menjawab tantangan diatas ataukah menjadi sesuatu  yang harus dilakukan oleh seorang mahasiswa selayaknya peran mereka.

Apapun yang terjawab nantinya, saat mahasiswa menjawab sendiri Kebutuhan ataupun kewajiban mereka, masyarakat sekitar kita telah berharap pada kita. Pertanyaannya pun berubah, lalu siapa lagi?

babang

Sahabat adalah seseorang…

yang bersamaku melewati hidup yang tak tentu ini


berjuang bersama demi sebuah impian

yang membentang di jalan berliku

di sepanjang jalan yang dilalui

mengerti sebuah kepercayaan, kesetiaan, dan pengorbanan


Sahabat adalah seseorang….

yang bersamaku menciptakan sejuta kenangan, sejuta pengalaman, sejuta

mimpi yang tak bertepi


kehadiran kita bersama ciptakan sejuta petualang

tawa yang kita lakukan

cemas yang kita rasakan

sedih yang dilalui, tak’kan kita lupa


Sahabat adalah seseorang…

yang bersaing bersama untuk sebuah keyakinan

kebencian yang dirasakan, kemarahan yang tersirat, keegoisan yang naif

hanya sebuah lika-liku dalam mencapai sebuah…


Persahabatan sejati….

Seperti puisi paling indah yang kita tulis,

Gambar yang paling indah yang kita tulis, dan

Musik paling indah yang kita mainkan untuk

seseorang, hadiah paling indah datang dari

hati kita, bukan dari harta kita…..

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

never stop to learn

January 2019
M T W T F S S
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Advertisements